Ilmu adalah pengetahuan yang tersusun secara sistematis dengan
menggunakan kekuatan pemikiran, pengetahuan mana selalu dapat diperiksa dan
ditelaah dengan kritis oleh setiap orang lain yang mengetahuinya. Itulah
sebabnya syarat – syarat ilmu harus memiliki objek, terminology, metodologi,
filosofi dan teori yang khas atau memiliki objek, metode, sistematika yang khas
dan musti universal.
Jurusan Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Desember 2013
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Rukun islam ada lima. Zakat dan haji merupakan bagian dari ruku islam trersebut. Dalam persoalan zakat masih belum seluruhnya dapat difahami masyarakat dengan jelas. Zakat juga dapat bermanfaat dan dapat mengurangi kemiskinan khususnya indonesia. Namun kesadaran akan mengeluarkan bagi yang terkena wajib zakat belum maksimal. Memang dalam praktek kehidupan dimasyarakat untuk dapat memaksimalkan zakat masih belum maksimal. Untuk memahamkan saja mengenai zakat kepada masyarakat juga masih sulit diterima oleh masyarakat. Entah siapa yang harus menyadarkan akan pentingnya zakat dan hikmah dibalik zakat serta memahamkan zakat kepada masyarakat. Dalam urusan haji, banyak diantara masyarakat yang menganut agama islam kurang memahami seluruhnya mengenai haji. Bagaimna rukunya, bagaimana syaratnya dan semua yang berhubungan dengan haji.
A. Latar belakang
Dalam penciptaan manusia, seringkali para ilmuwan menghadapi beberapa masalah. Permasalahan yang pertama bagaimana asal usul manusia. Dari mana manusia diciptakan, dan banyak permasalahan yang akan dihadapi para ilmuwan. Ilmuwan terdahulu akan berbeda pendapat dengan ilmuwan yang sekarang. Dengan berjalanya waktu dan berkembangnya pemikiran, maka hasil dari pendapat-pendapat yang terdahulu dan sekarang akan sangat berbeda. Bahkan pendapat yang terdahulu akan berlawanan dengan pendapat para ilmuwan yang sekarang.
Para ilmuwan. Terutama yang menganut materialisme mengira bahwa teori ini adalah fakta yang sudah terbukti secara ilmiyah. Dengan sangat mendukungnya dan juga dengan sengitnya mereka menolak gagasan uyang bertentangan denganya.
Kelompok kedua terdiri atas orang-orang yang tidak punya cukup keterangan tentang berbagai pernyataan teori evolusi. Mereka tak begitu tertarik kepadanya, karena tidak menyadari kerusakan yang telah dibawa Darwinisme kepada kemanusiaan dalam satu setengah abad terakhir ini. Bagi mereka tidak menjadi masalah bahwa teori ini dicekokkan kepada masyarakat serta dipertahankan mati-matian, sekalipun secara ilmiah teori ini sudah tidak absah, sebab mereka telah menutup mata terhadap apa yang sedang berlangsung.
Seandaimnya para ilmuwan atau orang orang yang menganggap teori tersebut telah kehilangan semua nilai kebenaran ilmiahnya, mereka tidak bisa bersungguh menghadapi orang yang masih memandangnya penting, karena mereka sendiri tidak menganggapnya penting. Mereka pikir tidak perlu menerangkan ketidak-absahan teori tersebut, menerbitkan buku, atau menggelar ceramah-ceramah tentang perihal ini, sebab di mata mereka teori itu sudah jadi barang kuno atau usang.
Kelompok ketiga adalah para ilmuwan dan mereka, yang di bawah pengaruh saran dan propaganda materialis, memandang teori ini sebagai fakta ilmiah dan mencari "jalan tengah" antara teori evolusi dan iman kepada Allah. Mereka menerima segenap uraian Darwinisme tentang asal-muasal kehidupan, namun mencoba membangun jembatan yang menghubungkan teori evolusi dengan kepercayaan agama, yaitu dengan berpendapat bahwa peristiwa dalam uraian tersebut berlangsung dalam kendali Allah.
Sesungguhnya, semua pandangan itu keliru, sebab teori evolusi tidak dapat disajikan secara nalar sebagai sebuah fakta ilmiah, diabaikan seakan sepele, maupun disesuaikan dengan agama. entah dimana para ilmuwan akan menentukan kebenaran yang sah.
Namun sebagai umat islam, akan menemui bebrapa titik terang. Karena agama samawi yakni agama islam telah membenarkan bahwa allah menciptakan semua yang ada di bumi ini. Namun tetap saja umat islam membela teori yang salah dan telah terevisi dan terbkti ketidak validan.
Ada beberapa pokok masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yang diambil dari permasalahan diatas dan akan dirumuskan dalam bab berikutnya.
B. Rumusan masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini akan dikelompokkan dengan bab.
a. Bab i membahas mengenai pendahuluan mengenai permasalahan yang ada
b. Bab ii membahas bagaimana asal usul manusia menurut teori darwin dan menurut harun yahya
c. Bab iii membahas mengenai asal usul manusia dikaji melalui revew dari al-qur an
d. Bab iv membahas pendapat penulis mengenai asal usul manusia
e. Bab v penutup
Al-Qur’an bagi umat Islam adalah petunjuk segala kehidupan, tak terkecuali dalam mengembangkan organisasi pendidikan yang melibatkan orang banyak. Membangun kampus sama artinya dengan membangun orang, baik dari sisi karakter, perilaku, keilmuan maupun ketrampilan. Mengatur orang banyak dengan berbagai sifatnya harus menggunakan pendekatan kemanusiaan. Sebab, manusia selain memiliki potensi maslahah, sekaligus juga menyandang potensi sifat-sifat mafsadah. Kedua sifat yang berlawanan itu tidak akan dapat dihilangkan, oleh karena itu harus disalurkan pada hal yang menguntungkan.
Dalam makalah ini, kami akan menbahas tentang unsur-unsur yang wajib terkandung dalam Universitas Islam Negeri Maliki Malang untuk pembangunan kampus islami.
Untuk
melaksanakan dzikir didalam thariqoh ada tata krama yang harus diperhatikan,
yakni adab berdzikir. Semua bentuk ibadah bila tidak menggunakan tata krama
atau adab, maka akan sedikit sekali faedahnya. Dalam kitab Al-Mafakhir
Al-’Aliyah fi al-Ma-atsir Asy-Syadzaliyah disebutkan, pada pasal Adab
adz-Dzikr,
sebagaimana
dituturkan oleh Asy-Sya’roni, bahwa adab berdzikir itu banyak tetapi dapat
dikelompokkan menjadi 20 (dua puluh), yang terbagi menjadi tiga bagian; 5 (lima)
adab dilakukan sebelum bedzikir, 12 (dua belas) adab dilakukan pada saat
berdzikir, 2(dua) adab dilakukan setelah selesai berdzikir.
Adapun
5 (lima ) adab yang harus diperhatikan sebelum berdzikir adalah;
1.
Taubat, yang hakekatnya adalah meninggalkan semua perkara yang tidak berfaedah
bagi dirinya, baik yang berupa ucapan, perbuatan, atau keinginan.
2.
Mandi dan atau wudlu.
3.
Diam dan tenang. Hal ini dilakukan agar di dalam dzikir nanti dia dapat
memperoleh shidq, artinya hatinya dapat terpusat pada bacaan Allah yang
kemudian dibarengi dengan lisannya yang mengucapkan Lailaaha illallah.
4.
Menyaksikan dengan hatinya ketika sedang melaksanakan dzikir terhadap himmah
syaikh atau guru mursyidnya.
5.
Menyakini bahwa dzikir thariqoh yang didapat dari syaikhnya adalah dzikir yang
didapat dari Rasulullah Saw, karena syaikhnya adalah naib (pengganti ) dari
beliau.
Sedangkan
12 (dua belas) adab yang harus diperhatikan pada saat melakukan dzikir adalah:
1.
Duduk di tempat yang suci seperti duduknya di dalam shalat..
2.
Meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya.
3.
Mengharumkan tempatnya untuk berdzikir dengan bau wewangian, demikian pula
dengan pakaian di badannya.
4.
Memakai pakaian yang halal dan suci.
5.
Memilih tempat yang gelap dan sepi jika memungkinkan.
6.
Memejamkan kedua mata, karena hal itu akan dapat menutup jalan indra dzahir,
karena dengan tertutupnya indra dzahir akan menjadi penyebab terbukanya indra
hati/bathin.
7.
Membayangkan pribadi guru mursyidnya diantara kedua matanya. Dan ini menurut
ulama thariqoh merupakan adab yang sangat penting.
8.
Jujur dalam berdzikir. Artinya hendaknya seseorang yang berdzikir itu dapat
memiliki perasaan yang sama, baik dalam keadaan sepi (sendiri) atau ramai
(banyak orang).
9.
Ikhlas, yaitu membersihkan amal dari segala ketercampuran. Dengan kejujuran
serta keikhlasan seseorang yang berdzikir akan sampai derajat ash-shidiqiyah
dengan syarat dia mau mengungkapkan segala yang terbesit di dalam hatinya
(berupa kebaikan dan keburukan) kepada syaikhnya. Jika dia tidak mau
mengungkapkan hal itu, berarti dia berkhianat dan akan terhalang dari fath
(keterbukaan bathiniyah).
10.
Memilih shighot dzikir bacaan La ilaaha illallah , karena bacaan ini memiliki
keistimewaan yang tidak didapati pada bacaan- bacaan dzikir syar’i lainnya.
11.
Menghadirkan makna dzikir di dalam hatinya.
12.
Mengosongkan hati dari segala apapun selain Allah dengan La ilaaha illallah ,
agar pengaruh kata “illallah” terhujam di dalam hati dan menjalar ke seluruh
anggota tubuh.
Dan
3 (tiga) adab setelah berdzikir adalah:
1.
Bersikap tenang ketika telah diam (dari dzikirnya), khusyu’ dan menghadirkan
hatinya untuk menunggu waridudz-dzkir. Para ulama thariqoh berkata bahwa bisa
jadi waridudz-dzikr datang dan sejenak memakmurkan hati itu pengaruhnya lebih
besar dari pada apa yang dihasilkan oleh riyadlah dan mujahadah tiga puluh
tahun.
2.
Mengulang-ulang pernapasannya berkali-kali. Karena hal ini – menurut ulama
thariqoh- lebih cepat menyinarkan bashirah, menyingkapkan hijab-hijab dan memutus
bisikan–bisikan hawa nafsu dan syetan.
3.
Menahan minum air. Karena dzikir dapat menimbulkan hararah (rasa hangat di hati
orang yang melakukannya, yang disebabkan oleh syauq (rindu) dan tahyij (gairah)
kepada al-madzkur/Allah Swt yang merupakan tujuan utama dari dzikir, sedang
meminum air setelah berdzikir akan memadamkan rasa tersebut.
Para
guru mursyid berkata: ”Orang yang berdzikir hendaknya memperhatikan tiga tata
krama ini, karena natijah (hasil) dzikirnya hanya akan muncul dengan hal
tersebut.” Wallahu a’lam.
A. Latar Belakang
Psikologi sebagai satu ilmu pengetahuan sudah berdiri sendiri sekitar abad ke 18, dari berbagai tokoh kemudian terbentuk aliran-aliran psikologi dengan berbagai teorinya masing-masing. Tujuan dari berbagai aliran tersebut tiada lain hanyalah ingin mengetahui lebih dalam lagi tentang ilmu yang mempelajari tentang jiwa ini.
PENDAHULUAN
Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dalam bumi ini. Manusia dibekali akal, hati, nafsu dan syahwat oleh Allah SWT. Dari sinilah manusia derajatnya terangkat jauh di atas para malikat dan para
Kata dasar Guru, banyak sekali artinya dalam bahasa keseharian kita. Ada yang bilang artinya sebagai pengajar, pendidik dan pembagi ilmu. Bahasa Jawa mengasumsikan sebagai diGugu lan ditiru yang artinya, diperhatikan dan ditiru segala tingkah lakunya yang positif. Itu sebabnya,saya menulis judul makalah ini, Guru Profesional. Alasannya?
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan sangatlah penting bagi semua orang didunia, karena pendidikan sebagai tolak ukur dari seseorang dianggap layak dan tidak layak. Dalam pendidikan juga adanya peserta didik yang ikut berperan dalam kegiatan mengajar atau mentransfer ilmu pengertauhan dari seorang guru.
A. Keberadaan Pendidikan Islam di Indonesia pada Masa Awal
kegiatan pendidikan Islam di Indonesia lahir dan tumbuh serta berkembang bersamaan dengan masuk dan berkembangnya islam di Indonesia. Sesungguhnya kegiatan pendidikan Islam tersebut merupakan pengalaman dan pengetahuan yang penting bagi kelangsungan perkembangan Islam dan umat Islam, baik secara kuantitas maupun kualitas.